Kupang, SonafNTT-News.com — Upaya mewujudkan swasembada pangan di Nusa Tenggara Timur terus digenjot. Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja Pengelolaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) tengah mempersiapkan pelaksanaan program pembangunan dan peningkatan jaringan irigasi sebagai bagian dari dukungan terhadap agenda nasional swasembada pangan.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Nusa Tenggara II melalui Satuan Kerja Pengelolaan Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Ari Murlery kepada wartawan pada Selasa 29/9/2026 menjelaskan bahwa Pada tahap pertama, sebanyak 40 daerah irigasi telah disiapkan dengan total alokasi anggaran mencapai Rp120 miliar. Program tersebut dibagi dalam dua paket wilayah, yakni Paket I yang mencakup Flores, Lembata dan Alor dengan 23 daerah irigasi, serta Paket II yang meliputi Timor, Rote, Sabu dan Sumba dengan 17 daerah irigasi.
Ia lanjut menguraikan, langkah ini menjadi bagian penting dalam memperkuat infrastruktur pertanian di NTT. Ketersediaan jaringan irigasi yang memadai diharapkan dapat mendukung produktivitas lahan pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan masyarakat.
Namun, pelaksanaan kontrak tahap pertama masih menunggu proses revisi DIPA dari Kementerian Pekerjaan Umum. Meski kontrak belum ditandatangani, proses persiapan tidak berhenti. BBWS Nusa Tenggara II telah melakukan proses lelang sambil menunggu perubahan DIPA tersebut.
Ari Murlery dalam kesempatan tersebut ia mengungkapkan bahwa pihaknya juga telah melakukan proses klarifikasi bersama pemerintah daerah. Bahkan, proses probity audit oleh Inspektorat Jenderal telah selesai, sementara bersama tim BP2JK juga telah dilakukan proses penunjukan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persiapan program terus berjalan secara bertahap dan terukur. Penandatanganan kontrak akan dilakukan setelah revisi DIPA diterima dan seluruh persyaratan administrasi terpenuhi.
Tidak hanya tahap pertama, BBWS Nusa Tenggara II juga mempersiapkan program tahap kedua. Sebanyak 146 jaringan irigasi telah diusulkan dari 18 kabupaten/kota, terdiri atas 50 jaringan irigasi permukaan dan 96 jaringan irigasi air tanah.
Program tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan infrastruktur air dan irigasi menjadi salah satu fondasi penting dalam mendukung swasembada pangan di NTT. Dengan dukungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, pembangunan jaringan irigasi diharapkan tidak sekadar menjadi proyek infrastruktur, tetapi mampu memberikan dampak langsung terhadap petani dan produksi pangan daerah.
Meski waktu pelaksanaan semakin mendekati penghujung tahun, BBWS Nusa Tenggara II tetap melakukan berbagai tahapan persiapan. Untuk tahap kedua, pelaksanaan direncanakan menggunakan skema multiyears, sehingga pembangunan dapat dilakukan secara lebih terencana sesuai kebutuhan dan kesiapan program.
“Program ini sekaligus memperlihatkan pentingnya sinergi antara Kementerian Pekerjaan Umum, BBWS Nusa Tenggara II, pemerintah daerah, serta para pemangku kepentingan di sektor pertanian” ujarnya
Ia menegaskan bahwa dengan dukungan anggaran, perencanaan, pengawasan dan pembangunan jaringan irigasi yang berkelanjutan, harapan untuk memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur semakin terbuka.
