Ruteng, SonafNTT-News.com — Di tengah duka dan kecemasan yang masih menyelimuti masyarakat pasca gempa Flores, kehadiran pemerintah menjadi harapan bagi ribuan warga yang kini harus meninggalkan rumah dan bertahan di tempat-tempat pengungsian.
Sebanyak 50.556 warga mengungsi, sementara 22.528 bangunan mengalami kerusakan akibat gempa yang mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai. Data tersebut menggambarkan betapa besar dampak bencana yang dirasakan masyarakat dan betapa mendesaknya kebutuhan penanganan di lapangan.
Di tengah situasi tersebut, Gubernur Nusa Tenggara Timur Emanuel Melkiades Laka Lena turun langsung menemui masyarakat terdampak. Usai mendampingi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Nagekeo untuk melihat kondisi masyarakat terdampak gempa, Gubernur Melki melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Manggarai.
Dalam perjalanan dari Labuan Bajo menuju Ruteng, Rabu (26/8/2026), Gubernur Melki menyempatkan diri singgah di Kampung Tungal, Desa Wae Mowol, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat.
Bukan sekadar datang untuk melihat kondisi, Gubernur membawa bantuan berupa sembako dan terpal. Ia juga menyempatkan diri duduk bersama warga, menyapa, mendengarkan keluhan, serta memastikan kebutuhan mereka setelah gempa benar-benar diketahui oleh pemerintah.
Di tengah percakapan sederhana itu, persoalan tenda menjadi salah satu kebutuhan mendesak warga.
“Untuk tenda, kita usahakan agar semua bisa dapat ya,” ujar Gubernur Melki kepada warga.
Warga menyampaikan bahwa kondisi lahan pertanian, baik sawah maupun lahan kering, relatif aman. Namun, rasa takut terhadap gempa susulan membuat sebagian petani belum berani kembali beraktivitas seperti biasa.
Bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari kebun dan sawah, situasi tersebut bukan perkara sederhana. Di satu sisi mereka membutuhkan tempat yang aman untuk berlindung, tetapi disisi lain mereka juga harus memikirkan keberlangsungan hidup keluarga.
Gubernur Melki pun mengajak masyarakat untuk tidak panik dan tetap menjaga kesehatan selama berada di lokasi pengungsian.
“Kita doakan mudah-mudahan gempa ini segera usai. Untuk sekarang biar kita di tenda dulu, kemudian jaga kesehatan, pangan, minum yang cukup,” kata Gubernur.
Dalam kondisi bencana, kebutuhan akan makanan, air minum, tempat berlindung dan rasa aman menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pemulihan.
“Kami Tahu Bapak Lelah, Tapi Masih Sempat Datang.Kehadiran Gubernur Melki di Kampung Tungal juga meninggalkan kesan tersendiri bagi masyarakat”
.
Kepala Desa Wae Mowol, Florianus Hibur, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih karena Gubernur datang langsung melihat kondisi warganya.
Florianus mengaku terharu karena di tengah padatnya agenda Gubernur, termasuk mendampingi Presiden Prabowo di Nagekeo, masih menyempatkan diri mengunjungi masyarakat terdampak.
“Bapak Gubernur, terima kasih banyak sudah hadir lihat kami di sini. Kami tahu Bapak lelah, tadi dampingi Bapak Presiden ke Nagekeo, tapi malam ini masih sempat datang lihat kami di sini,” ujar Florianus.
Manggarai Hadapi Dampak Besar
Setelah menemui warga di Kampung Tungal, Gubernur Melki melanjutkan perjalanan menuju Ruteng. Setibanya di Manggarai, ia langsung menuju Posko Tanggap Darurat BPBD Kabupaten Manggarai dan bertemu Bupati Manggarai Heribertus Nabit.
Dalam pertemuan tersebut, Bupati menyampaikan perkembangan penanganan bencana di wilayahnya.
Hingga saat ini tercatat 46 orang meninggal dunia, 58 orang mengalami luka berat, dan 516 orang mengalami luka ringan. Jumlah pengungsi mencapai 50.556 orang, sedangkan total kerusakan tercatat sebanyak 22.528 unit.
Dampak gempa juga dirasakan hampir di seluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Manggarai. Dari 12 kecamatan yang ada, hanya Kecamatan Satar Mese Barat yang dilaporkan tidak mengalami dampak signifikan.
Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat keluarga yang kehilangan anggota keluarga, rumah yang rusak, mata pencaharian yang terganggu, serta warga yang hingga kini masih menunggu kepastian kapan dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.
Karena itu, penanganan bencana tidak berhenti pada evakuasi dan pemberian bantuan darurat. Kebutuhan tempat tinggal sementara, pangan, air minum, layanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan hingga pemulihan rumah dan mata pencaharian menjadi pekerjaan besar yang membutuhkan perhatian bersama.
Harapan agar Tak Ada Warga yang Terlewat
Gubernur Melki menyampaikan apresiasi kepada para relawan, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai pihak dari dalam dan luar NTT yang terus bergerak membantu korban gempa Flores.
Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan penting di tengah besarnya kebutuhan masyarakat.
Namun, dengan puluhan ribu warga masih berada di pengungsian dan puluhan ribu bangunan mengalami kerusakan, dukungan dan perhatian terhadap masyarakat terdampak tentu masih sangat dibutuhkan
Menurutnya, bencana gempa yang berdampak luas membutuhkan dukungan dan kerja bersama seluruh elemen masyarakat. Semangat gotong royong menjadi kekuatan penting dalam menghadapi situasi darurat dan mempercepat proses penanganan bencana.
“ kami memberikan apresiasi dan ucapan terima kasih bagi yang memberikan dukungan. Dan ini menunjukkan bahwa gotong royong yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia, yang juga kekuatan di NTT, yang Bung Karno temukan dan rumuskan itu di Ende, di Flores ini, benar-benar bisa kita lihat dan kita rasakan dalam proses penanganan gempa Flores kali ini,” ujarnya.
Gubernur Melki menegaskan, kunjungan dan koordinasi dengan pemerintah kabupaten terdampak dilakukan untuk memastikan penanganan masyarakat berjalan maksimal. Koordinasi dan sinergi antara Pemerintah Provinsi NTT dan pemerintah kabupaten terus diperkuat, terutama dalam pemenuhan kebutuhan dasar, penanganan pengungsi, pelayanan kesehatan, serta percepatan pemulihan pasca bencana.












