Gempa Flores Jadi Prioritas, Gubernur Melki Perketat Pengawasan Kerusakan Infrastruktur Jalan dan Segera Benahi 1.378 Sekolah Terdampak

Screenshot_20260904-220728_Instagram

Kupang, SonafNTT-News.com — Dampak gempa bumi di Flores menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena meminta penanganan pasca gempa dilakukan secara cepat, terukur dan tepat sasaran, terutama terhadap infrastruktur jalan serta fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan.

Gubernur Melki menegaskan hal tersebut saat memimpin rapat koordinasi bersama tiga dinas strategis Pemprov NTT, yakni Dinas PUPR, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta Dinas Kesehatan, Rabu (2/9/2026).

Kerusakan Jalan Harus Terdata dan Terverifikasi

Salah satu perhatian utama pemerintah adalah kondisi infrastruktur jalan yang terdampak gempa. Infrastruktur jalan memiliki peran vital karena menjadi akses utama masyarakat, jalur distribusi kebutuhan pokok, sekaligus akses bagi tim penanganan bencana dan layanan kesehatan menuju wilayah terdampak.

Karena itu, Gubernur Melki meminta seluruh kerusakan infrastruktur Jalan di data dan diverifikasi secara faktual. Setiap titik kerusakan harus memiliki data yang jelas sehingga pemerintah dapat menentukan langkah penanganan berdasarkan tingkat kebutuhan dan kewenangan.

Hal ini juga berkaitan dengan pembagian tanggung jawab antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota dan pemerintah pusat. Kejelasan kewenangan dinilai penting agar proses rehabilitasi tidak tumpang tindih dan anggaran maupun sumber daya dapat diarahkan kepada lokasi yang benar-benar membutuhkan.

Gubernur juga meminta setiap pekerjaan di lapangan didokumentasikan. Dengan demikian, perkembangan perbaikan dapat dipantau dan dievaluasi secara berkala.

1.378 Sekolah Terdampak, 882 Ruang Kelas Perlu Direvitalisasi

Tidak kalah mengkhawatirkan adalah dampak gempa terhadap sektor pendidikan. Sebanyak 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak, dengan 882 ruang kelas membutuhkan revitalisasi.

Angka tersebut menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Jika tidak segera ditangani, kerusakan fasilitas pendidikan berpotensi mengganggu aktivitas belajar ribuan siswa di wilayah terdampak.

Gubernur Melki meminta ruang belajar darurat segera disiapkan. Tenda maupun konstruksi sederhana dapat digunakan sebagai solusi sementara agar proses pembelajaran tidak terhenti sembari menunggu perbaikan fasilitas sekolah.

Namun, pemulihan pendidikan tidak hanya menyangkut bangunan fisik. Anak-anak yang mengalami bencana juga menghadapi tekanan psikologis. Karena itu, program trauma healing bagi siswa dan guru menjadi bagian penting dari proses pemulihan.

Kesehatan Warga dan Pengungsi Tetap Jadi Prioritas

Di tengah proses pemulihan, pelayanan kesehatan di wilayah terdampak dan lokasi pengungsian juga harus tetap berjalan. Selain itu, Pemprov NTT meminta pemantauan terhadap berbagai penyakit diperkuat, termasuk ISPA, diare, dengue dan penyakit lainnya yang berpotensi meningkat setelah bencana.

Gubernur Melki perhatian juga diberikan kepada tenaga kesehatan yang berada di garis depan. Mereka tidak hanya diwajibkan memberikan pelayanan kepada masyarakat, tetapi juga menghadapi tekanan selama menjalankan tugas di daerah terdampak. Pendampingan psikologis bagi tenaga kesehatan menjadi bagian dari perhatian pemerintah.