Dari Jualan Ikan hingga Beli Mobil Pickup, Roni Oematan Ungkap Kisah Inspiratif Nasabah Bank NTT Cabang Rote Ndao

20261021_183639

Rote Ndao, SonafNTT-News.com – Siapa sangka, usaha sederhana berjualan ikan bisa menjadi jalan bagi seorang nelayan untuk memperjuangkan masa depan keluarganya. Berawal dari pinjaman Rp5 juta melalui Program Kredit Merdeka Bank NTT Cabang Rote Ndao, Yanto Daud kini berhasil melewati tahapan pembiayaan hingga sedang berproses mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp200 juta untuk membeli mobil pickup guna mengembangkan usaha ikan.

Kisah perjuangan Yanto Daud ini diungkapkan Kepala Bank NTT Cabang Rote Ndao,  Ade  Roni Oematan, saat ditemui wartawan pada Rabu (21/10/2026). Perjalanan tersebut menjadi gambaran perjuangan pelaku usaha kecil yang berusaha meningkatkan penghasilan melalui ketekunan, kedisiplinan, dan akses permodalan.

Bagi Yanto, perjalanan mengembangkan usaha tidak dimulai dari modal besar. Ia memulainya dengan pinjaman Rp5 juta yang digunakan untuk mendukung aktivitas jualan ikan sehari-hari. Dengan komitmen membayar angsuran, ia kemudian kembali mengakses pinjaman dengan plafon Rp10 juta

.
Setelah menyelesaikan kewajiban pinjamannya, Yanto kini berupaya melangkah lebih jauh. Ia sedang menjalani proses pengajuan KUR Rp200 juta yang direncanakan untuk membeli mobil pickup sebagai sarana penunjang usaha.

“Awalnya dia mengenal Bank NTT melalui pinjaman dengan plafon Rp5 juta. Kemudian, karena konsisten membayar pinjaman, plafonnya meningkat menjadi Rp10 juta. Saat ini, dia sedang berproses mengajukan KUR Rp200 juta untuk membeli pickup dengan tujuan mengembangkan usaha ikan,” jelas Roni Oematan.

Dari Modal Kecil, Tumbuh Harapan Besar

Menurut Kepala Bank NTT Cabang Rote Ndao  Ade  Roni Oematan, kisah Yanto merupakan salah satu pengalaman yang menggambarkan perkembangan nasabah Bank NTT Cabang Rote Ndao, khususnya masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada usaha perikanan dan perdagangan kecil.

Di balik aktivitas berjualan ikan, Yanto memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hasil usahanya turut membantu membiayai pendidikan anak-anaknya, sekaligus menjadi motivasi untuk terus meningkatkan pendapatan keluarga.

Keinginan membeli mobil pickup bukan semata-mata untuk memiliki kendaraan, melainkan sebagai upaya memperkuat aktivitas usaha agar penjualan ikan dapat dikembangkan sesuai kebutuhan dan kemampuan usahanya.

Menurutnya, Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan usaha membutuhkan proses. Modal menjadi salah satu unsur penting, tetapi kedisiplinan memenuhi kewajiban dan kemampuan mengelola keuangan juga berperan dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Yanto Daud: Kepercayaan Harus Dibangun dengan Tanggung Jawab

Saat ditemui ketika berjualan ikan, Yanto Daud menceritakan bahwa pinjaman pertamanya sebesar Rp5 juta melalui Program Kredit Merdeka diselesaikan dalam waktu satu tahun. Selanjutnya, ia kembali mengajukan pinjaman Rp10 juta dengan masa angsuran dua tahun.

Setelah menyelesaikan pinjaman tersebut, ia berupaya memanfaatkan peluang pembiayaan berikutnya untuk memperbesar kapasitas usahanya.

“Puji Tuhan, setelah menyelesaikan pinjaman Rp10 juta, berkat komunikasi dan kerja sama yang baik, sekarang saya sedang berproses mengajukan KUR untuk membeli mobil pickup guna menunjang usaha jualan ikan. Prinsip saya, kalau meminjam harus membangun kepercayaan dan taat menyetor pinjaman,” ungkap Yanto.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan Bank NTT Cabang Rote Ndao beserta seluruh jajaran atas dukungan yang diberikan selama perjalanan usahanya.

“Terima kasih atas dukungan bagi kami sekeluarga. Ini menjadi semangat bagi kami untuk terus berjuang memperbaiki ekonomi keluarga,” tuturnya.

Bukan Hanya Nelayan, Penjual Jagung Muda Juga Merasakan Manfaatnya

Roni Oematan turut menceritakan kisah seorang nasabah perempuan yang sehari-hari berjualan jagung muda. Perempuan tersebut memulai perjalanan pembiayaannya melalui Program Kredit Merdeka dengan plafon Rp1 juta.

Berkat ketekunan menjalankan usaha dan kedisiplinan membayar angsuran, plafon pinjamannya kemudian meningkat hingga Rp10 juta.

Di balik kesederhanaan usahanya, tersimpan perjuangan besar seorang ibu untuk memenuhi kebutuhan keluarga, terutama pendidikan anak-anaknya. Bahkan, hasil dari usaha berjualan jagung muda turut menjadi bagian dari perjuangannya mendampingi anak hingga memasuki jenjang pernikahan.

“Dia tidak memilih koperasi, tetapi memilih Bank NTT. Dari berjualan jagung muda, dia bisa menyekolahkan anaknya. Bahkan, ketika anaknya hendak menikah, ibu tersebut mengundang kami,” ungkap Roni.

Kisah tersebut memperlihatkan bahwa usaha kecil bukan sekadar aktivitas mencari penghasilan harian. Bagi sebagian masyarakat, usaha itu merupakan tumpuan untuk membiayai pendidikan, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan membangun masa depan keluarga.

Bank NTT Utamakan Kualitas Kredit

Di balik kisah perkembangan nasabah tersebut, Roni menegaskan bahwa kualitas pengajuan kredit tetap menjadi prioritas Bank NTT Cabang Rote Ndao. Setiap pengajuan pembiayaan harus melalui prosedur dan memenuhi persyaratan yang berlaku.

“Prinsip ini penting agar pembiayaan dapat disalurkan sesuai ketentuan, dengan mempertimbangkan kebutuhan usaha dan kemampuan nasabah dalam memenuhi kewajiban pembayaran “ tegasnya