Lapas Kupang dan PT SMJ Sulap Batu Karang Jadi Lahan Produktif, Gubernur Melki Beri Apresiasi
Kupang, SonafNTT-News.com. Nusa Tenggara Timur kembali menjadi perhatian publik setelah keberhasilan luar biasa Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kupang mengubah lahan batu karang yang sebelumnya tandus menjadi hamparan kebun jagung produktif. Keberhasilan tersebut ditunjukkan melalui Panen Raya Jagung yang digelar di Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Kupang, Jumat (22/5/2026), hasil kerja sama antara Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan NTT bersama PT Silvano Maynard Jaya (SMJ).
Panen raya ini bukan sekadar kegiatan pertanian biasa, tetapi menjadi simbol keberhasilan pembinaan warga binaan, pemberdayaan sumber daya manusia, sekaligus bukti nyata dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional yang dicanangkan pemerintah pusat.
Hamparan jagung hijau yang tumbuh subur di atas lahan berbatu karang membuat banyak pihak kagum. Sejumlah pejabat daerah, Forkopimda, tokoh masyarakat, hingga para pemangku kepentingan yang hadir memberikan apresiasi atas transformasi besar yang terjadi di lingkungan Lapas Kupang.
Kepala Lapas Kelas IIA Kupang, Wawan Irawan, mengaku terkejut sekaligus bangga melihat perubahan besar tersebut. Menurutnya, lima tahun lalu kawasan itu hanyalah lahan tandus penuh batu karang, namun kini berhasil menjadi lahan pertanian yang produktif dan bernilai ekonomi.
“Ini sesuatu yang luar biasa. Dulu lahan ini hanya batu karang, tetapi sekarang sudah penuh dengan tanaman jagung yang tumbuh sangat baik. Ini membuktikan bahwa dengan kemauan dan kerja sama, keterbatasan bisa diubah menjadi kekuatan,” ungkapnya.
Program tersebut juga menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan nasional melalui pembinaan produktif bagi warga binaan.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas NTT, Ketut Akbar Herry Achjar, menjelaskan bahwa program pertanian jagung ini tidak hanya bertujuan menghasilkan pangan, tetapi juga membekali warga binaan dengan keterampilan nyata yang dapat digunakan setelah mereka kembali ke masyarakat.
“Kami ingin warga binaan memiliki pengalaman kerja dan keterampilan pertanian. Dengan pembinaan seperti ini, mereka punya harapan baru untuk membangun kehidupan yang lebih baik setelah selesai menjalani masa pidana,” jelasnya.
Apresiasi tinggi datang langsung dari Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena. Menurutnya, keberhasilan mengolah lahan batu karang menjadi kebun jagung produktif membuktikan bahwa keterbatasan alam bukan alasan untuk berhenti berinovasi.
(Para Pimpinan Forkopimda dan Pejabat Vertikal pose bersama saat pembukaan kegiatan, Jumat 22/5/2026)
“Kalau dulu orang melihat tempat ini kosong dan berbatu, sekarang kita melihat jagung tumbuh subur. Ini bukti bahwa tanah berbatu di Kupang juga bisa menghasilkan jika dikelola dengan baik dan dilakukan secara bersama-sama,” ujar Gubernur Melki.
Ia berharap model pengelolaan seperti yang dilakukan Lapas Kupang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di NTT, terutama dalam memanfaatkan lahan tidur yang selama ini belum tergarap maksimal.
Keberhasilan ini juga mendapat perhatian luas karena dinilai mampu membuka harapan baru dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan ekonomi masyarakat. Bahkan, Direktur PT SMJ, Silverter Sudin, menyampaikan komitmennya untuk memperluas pengembangan pertanian jagung hingga 5.000 hektar pada tahun depan yang diperkirakan mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Sementara Wakil Wali Kota Kupang, Serena Cosgrova Francis, menyebut keberhasilan tersebut sebagai inovasi luar biasa yang patut dicontoh masyarakat Kota Kupang. Menurutnya, masih banyak lahan tidur yang sebenarnya memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi lahan produktif demi mendukung program ketahanan pangan nasional.
“Ini merupakan contoh nyata mendukung program ketahanan pangan Presiden Prabowo Subianto. Banyak lahan tidur di Kota Kupang yang sebenarnya bisa dimanfaatkan seperti yang dilakukan Lapas Kupang,” ujarnya.
Apresiasi serupa datang dari Ketua DPRD Provinsi NTT, Emilia Julia Nomleni. Ia menilai program tersebut memiliki dampak sosial yang sangat positif karena tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga memberikan ruang pembinaan yang membangun kepercayaan diri warga binaan.
“Warga binaan mendapatkan kesempatan bahwa mereka tetap dibutuhkan dan mampu berkarya. Ini sesuatu yang sangat penting dan berdampak baik,” katanya.
Sementara itu, DPD RI Perwakilan NTT, Ir. Abraham Liyanto, menyebut keberhasilan panen jagung di lahan batu karang sebagai simbol kebangkitan sektor pertanian NTT. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan bahwa keterbatasan kondisi alam bukan penghalang untuk menghasilkan sesuatu yang bernilai besar.
“Di lahan yang sulit saja sudah bisa menghasilkan, apalagi di lahan yang subur. Ini harus kita dukung bersama dan perlu diviralkan agar menjadi motivasi bagi daerah lain,” ujarnya.
Bupati Kupang, Josef Lede, juga memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan Kanwil Ditjenpas NTT dan Lapas Kupang dalam membina warga binaan melalui program produktif. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa sesuatu yang dianggap mustahil bisa diwujudkan melalui kerja sama dan semangat perubahan.
“Ternyata warga binaan juga mendapatkan pendidikan yang luar biasa. Setelah keluar dari Lapas, mereka bisa menjadi petani yang sukses di tengah masyarakat,” katanya.
Tidak hanya berdampak sosial, program pertanian jagung ini juga diproyeksikan memiliki dampak ekonomi besar bagi masyarakat NTT. Direktur PT Silvano Maynard Jaya, Silverter Sudin, mengungkapkan bahwa pihaknya menargetkan pengembangan pertanian jagung hingga 5.000 hektar pada tahun depan sebagai langkah menuju swasembada pangan daerah.
“Kami ingin membangun swasembada pangan di NTT. Tahun depan PT SMJ akan menanam 5.000 hektar jagung dan ini akan membuka lapangan pekerjaan yang sangat besar bagi masyarakat,” jelasnya.

