Layanan Keuangan Makin Merata, OJK NTT Catat Pertumbuhan Investor dan Kredit Produktif

20260710_195635

Kupang, SonafNTT-News.com. Akses layanan keuangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) menunjukkan perkembangan yang semakin menggembirakan. Sepanjang 2025 hingga Triwulan II-2026, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT mencatat lonjakan signifikan pada literasi dan inklusi keuangan yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah investor serta penyaluran kredit produktif kepada masyarakat.

Kepala OJK NTT, Yan Jimmy Hendrik Simarmata, mengungkapkan bahwa semakin banyak masyarakat mulai memanfaatkan layanan keuangan formal, tidak hanya untuk menabung, tetapi juga berinvestasi dan mengembangkan usaha produktif.

“Data menunjukkan adanya perubahan perilaku masyarakat. Kesadaran untuk berinvestasi dan memanfaatkan produk jasa keuangan terus meningkat,” ujarnya dalam kegiatan Media Briefing pada Jumat sore di Kota Kupang, Jumat (10/7/2026).

Salah satu indikator paling menarik perhatian adalah pertumbuhan jumlah investor pasar modal. Investor saham meningkat dari 40.407 Single Investor Identification (SID) pada Mei 2025 menjadi 56.629 SID pada Mei 2026 atau tumbuh 49,10 persen secara tahunan.

Pertumbuhan yang lebih spektakuler terjadi pada investor reksa dana. Dalam kurun waktu satu tahun, jumlah investor melonjak dari 105.539 SID menjadi 217.489 SID atau meningkat hingga 106,07 persen. Sementara itu, investor Surat Berharga Negara (SBN) juga bertambah dari 3.013 SID menjadi 4.097 SID.

Tidak hanya jumlah investor yang bertambah, nilai investasi masyarakat juga meningkat tajam. Nilai kepemilikan saham tercatat naik dari Rp 561 miliar pada Desember 2025 menjadi Rp838 miliar pada Mei 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa masyarakat NTT mulai melihat investasi sebagai bagian dari strategi membangun kesejahteraan jangka panjang.

Di balik capaian tersebut, OJK bersama Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) terus memperkuat edukasi keuangan. Sepanjang Triwulan II-2026, OJK NTT melaksanakan 29 kegiatan literasi keuangan yang diikuti 4.122 peserta di 11 kabupaten/kota.

Sementara itu, PUJK menyelenggarakan 2.191 kegiatan edukasi dengan melibatkan lebih dari 20 ribu peserta yang menjangkau seluruh 22 kabupaten/kota di NTT. Program tersebut merupakan bagian dari Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) yang bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan jasa keuangan.

Peningkatan literasi tersebut berjalan beriringan dengan semakin luasnya akses pembiayaan melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Hingga Triwulan II-2026, telah terbentuk 23 TPAKD di NTT yang terdiri atas satu TPAKD Provinsi, satu TPAKD Kota, dan 21 TPAKD Kabupaten.

Dampaknya terlihat nyata. Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) mencapai Rp1,71 triliun kepada 33.460 debitur. Program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR) juga telah menyalurkan Rp99,22 miliar kepada 15.615 debitur sehingga membuka akses pembiayaan yang lebih aman dan terjangkau bagi pelaku usaha kecil.

Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) pun menunjukkan perkembangan menggembirakan dengan 2.013.687 rekening pelajar yang telah terbuka dengan total simpanan mencapai Rp465,55 miliar. Selain itu, sebanyak 33.641 Agen Laku Pandai telah beroperasi di berbagai wilayah, memperluas jangkauan layanan keuangan hingga ke daerah-daerah yang sebelumnya sulit dijangkau.

Ia lebih lanjut menerangkan bahwa, Capaian sektor keuangan ini turut sejalan dengan kondisi ekonomi daerah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi NTT pada Triwulan I-2026 tumbuh 5,32 persen secara tahunan (year on year). Bahkan, kawasan Bali dan Nusa Tenggara menjadi wilayah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi secara nasional sebesar 7,93 persen, didukung sektor pertambangan, industri pengolahan, pertanian, serta semakin kuatnya sektor jasa keuangan.

Menariknya, sektor jasa keuangan dan asuransi menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi di NTT, yakni mencapai 11,30 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa layanan keuangan kini semakin diterima masyarakat dan mulai menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi daerah.

Meski demikian, OJK mengingatkan bahwa tantangan masih ada. Pemerataan akses layanan keuangan hingga ke wilayah terpencil yang tersebar di seluruh Kabupaten/ kota wilayah NTT harus ditingkatkan melalui kerja-kerja inovatif agar literasi literasi, serta penguatan usaha mikro dan kecil tetap menjadi agenda penting agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas yang berdampak terhadap perbaikan ekonomi oleh karena itu kerja sama lintas sektor harus pula dioptimalkan oleh Pemerintah daerah bagi kemajuan daerah .