Manggarai, SonafNTT-News.com — Harapan masyarakat untuk kembali melintasi Jembatan Wae Pesi di Kabupaten Manggarai dengan aman perlahan mulai menemukan titik terang. Pasca terdampak bencana gempa bumi, jembatan yang menjadi bagian penting dari jalur nasional Ruteng–Reo–Kedindi kini mendapat penanganan permanen melalui pekerjaan rehabilitasi.
Penanganan tersebut dilakukan oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) NTT, Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah III melalui PPK 3.3. Pekerjaan ditargetkan dapat diselesaikan pada akhir Desember 2026.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3, Nur Indah Indriani, ST, MM, M.Si, menjelaskan bahwa saat ini proses pemeriksaan dan penanganan terhadap bagian-bagian jembatan yang terdampak masih terus berjalan.
“Untuk Jembatan Wae Pesi saat ini sedang dilakukan penanganan permanen melalui rehabilitasi. Untuk pelaksanaannya kami targetkan selesai akhir Desember 2026,” jelas Nur Indah kepada wartawan pada Jumat 11/9/2026
Menurutnya, pemeriksaan konstruksi menjadi bagian penting sebelum seluruh pekerjaan diselesaikan. Beberapa komponen yang menjadi perhatian dalam penanganan antara lain elastomer, sambungan jembatan, serta penguatan baut dan bagian konstruksi yang terdampak akibat gempa.
Keselamatan Pengguna Jalan Jadi Perhatian Utama
Di tengah proses rehabilitasi, aktivitas masyarakat dan distribusi logistik tidak boleh terhenti. Jembatan Wae Pesi merupakan bagian dari ruas Jalan Nasional Ruteng–Reo–Kedindi yang memiliki peran penting dalam pergerakan orang dan barang di wilayah Flores.
Karena itu, pengaturan lalu lintas dilakukan agar kendaraan tetap dapat melintas, namun beban pada jembatan dapat dikendalikan.
“Kendaraan masih bisa melewati jembatan tersebut, namun kami melakukan manajemen lalu lintas. Kendaraan yang muatannya berat tidak melintas di waktu yang bersamaan di atas jembatan, sehingga mengurangi beban muatan,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bentuk kehati-hatian selama proses penanganan berlangsung. Pemerintah tidak ingin masyarakat kehilangan akses transportasi, tetapi pada saat yang sama keselamatan pengguna jalan tetap menjadi pertimbangan utama.
Menurutnya, Truk pengangkut kebutuhan masyarakat, termasuk kendaraan logistik dan truk Pertamina, masih dapat melintas dengan sistem pengaturan atau bergantian.
“Ruas Jalan Nasional Ruteng–Reo–Kedindi merupakan salah satu jalan strategis untuk menyangkut logistik. Tronton dan truk Pertamina bisa melewati jembatan tersebut, namun kita batasi atau bergantian sehingga mengurangi beban muatan,” jelasnya.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa, Koordinasi dengan pihak lalu lintas juga terus dilakukan untuk memastikan pengaturan kendaraan tidak menghambat mobilitas masyarakat.
“Selama penanganan kita telah berkoordinasi dengan pihak lalu lintas untuk dibatasi, namun tidak menghambat kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Semua tetap lancar,” tambah Nur Indah.
Bukan Sekadar Jembatan, Wae Pesi adalah Jalur Kehidupan
Bagi masyarakat, keberadaan Jembatan Wae Pesi bukan sekadar konstruksi beton dan baja yang menghubungkan satu sisi jalan dengan sisi lainnya.
Jembatan tersebut merupakan bagian dari jalur yang digunakan masyarakat untuk bekerja, bersekolah, membawa hasil pertanian, mengangkut kebutuhan sehari-hari hingga mendistribusikan berbagai kebutuhan pokok.
Karena itu, penanganan permanen jembatan diharapkan bukan hanya mengembalikan kondisi fisiknya, tetapi juga memberikan rasa aman dan kepastian bagi masyarakat yang setiap hari bergantung pada jalur tersebut.
Jembatan Wae Dampek Juga Dalam Penanganan
Selain Jembatan Wae Pesi, BPJN NTT juga memberikan perhatian terhadap Jembatan Wae Dampek di Kabupaten Manggarai Timur yang turut terdampak bencana gempa bumi.
Nur Indah menjelaskan, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan penyelidikan tanah sebagai bagian dari upaya mendapatkan gambaran teknis secara lebih detail mengenai kondisi lokasi dan langkah penanganan yang tepat.
(Nampak badan jalan area Jembatan sedang di Tangani, dok.istimewa, Jumat 11/9/2026)
“Tim melakukan pemeriksaan sesuai ketentuan konstruksi sehingga memiliki daya tahan yang kuat terhadap gangguan gempa,” katanya.
Pada badan jalan di sekitar Jembatan Wae Dampek sebelumnya juga ditemukan penurunan. Namun, kondisi tersebut telah ditangani, termasuk bagian oprit sepanjang 100 meter.
Penanganan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek teknis dan keselamatan, sehingga infrastruktur yang dibangun maupun diperbaiki dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
18 Titik Longsor Dibersihkan, Jalur Kembali Fungsional
Dampak bencana gempa bumi di wilayah Flores juga dirasakan pada sejumlah titik lainnya. Dalam wilayah kerja PPK 3.3, tercatat terdapat 18 titik longsor yang mengganggu akses jalan nasional. Namun, respons cepat dilakukan dengan pembersihan dan penanganan di lokasi terdampak.
“Pasca gempa bumi Flores, wilayah kerja PPK 3.3 adanya 18 titik longsor dan kami sudah lakukan pembersihan. Penanganannya sudah kembali fungsional,” ungkap Nur Indah.
Ia menegaskan bahwa Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan infrastruktur pasca bencana tidak hanya berbicara mengenai pembangunan kembali secara fisik. Lebih dari itu, ada kebutuhan untuk memastikan masyarakat tidak terlalu lama terisolasi dan roda perekonomian tetap bergerak.
