Progres Deker &Jalan Penghubung Jalan Dusun Haeklese,Sebagai Akses Mobilitas Masyarakat Sejak 2018

Malaka,Sonafntt.news com.Pemerintah Pusat melalui Kementerian Desa menginstruksikan agar para kepala Desa memanfaatkan Dana Desa baik pemberdayaan masyarakat maupun menjadi prioritas dalam pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan namun pembangunan jalan pengerasan dan jembatan atau deker, yang anggarannya dialokasikan lewat dana desa tahun anggaran TA.2017 ), justru belum memberikan dampak pembangunan jalan dan deker sesuai progres, yang harus dinikmati oleh masyarakat Dusun Haeklese sebagai akses untuk mobilitas masyarakat, dalam melakukan aktifitas di segala aspek kehidupan.

Hal ini disampaikan oleh Yulius Bria, tokoh pemuda Desa Wesey Dusun Haeklese melalui saat ditemui oleh awak media,selasa (14/7/2020 ).

Jalan dan deker yang dibangun oleh Pemerintah Desa Wesey dengan menggunakan dana desa dengan tujuan agar memudahkan akses transportasi masyarakat dalam melakukan aktifitas kesehariannya namun anggaran yang dialokasikan, untuk pengerjaan jalan dan deker justru tidak memberikan manfaat bagi masyarakat Dusun Haeklese namun justru sebaliknya.

Lius Bria menjelaskan bahwa, cukup memprihatinkan melihat kondisi jalan dan deker yang merupakan akses penghubung, antara dusun Haeklese dengan pusat Pemerintahan Desa Wesey dan ibu kota Kabupaten Malaka sejak tahun 2017 silam untuk melakukan mobilitas transportasi masyarakat baik urusan administrasi di pemerintahan desa, kecamatan dan kabupaten, maupun akses untuk pendidikan di pusat pemerintahan Desa Wesey serta pemasaran hasil-hasil pertanian dan peternakan, demi memenuhi kebutuhan hidup”,katanya.

Dusun Haeklese merupakan salah satu dusun dari 5 dusun di Desa Wesey, Kecamatan Weliman Kabupaten Malaka Provinsi NTT. dengan 10 Kepala keluarga yang berdomisili di dalam wilayah dusun terpencil dan terisolasi tersebut.

Ia menuturkan bahwa, sejak 2017 Pemerintah Desa Wesey melakukan pembangunan jalan dan deker lewat pos dana desa masyarakat justru kwhatir untuk melewati dalam melakukan perjalanan, dengan alasan karena jembatan atau deker tersebut justru berisiko fatal, ketika musim hujan dan terjadi banjir sehingga masyarakat mencari alternatif jalan yang aman, meskipun dengan jarak tempuh yang amat jauh”, pungkasnya.

Ambruk atau rusaknya deker sebagai penghubung antara Dusun Haeklese dengan pusat Pemerintah Desa Wesey, sudah bertahun tahun tidak diperhatikan dan melihat kondisi akses pembangunan jalan dan deker tersebut mengundang keprihatinan, dari beberapa masyarakat dusun setempat akan progres pembangunan jalan dan deker yang dilakukan pada tahun anggaran ( TA. 2017 ) dengan menghabiskan anggaran dari dana desa ratusan juta rupiah, justru terkesan asal asalan dan tidak pro terhadap masyarakat Dusun Haeklese.

” Lius menceritakan bahwa kerusakan atau ambruknya jalan dan deker tersebut, akibat faktor progres pembangunan fisik yang tidak sesuai dengan petunjuk teknis pembangunan. ataupun karena faktor alam, kita masyarakat Dusun Haeklese tidak memahami itu sehingga pemerintah desa perlu tergerak hati akan kondisi jalan dan deker tersebut untuk mengalokasikan anggaran dari dana desa tahun 2020/2021 untuk dapat diperbaiki “,tandasnya.

Harapan dan keluhan masyarakat Dusun Haeklese kepada pemerintah desa setempat agar memperhatikan kondisi jalan dan deker yang sudah ambruk dan tidak dapat dimanfaatkan untuk transportasi dalam melakukan perjalanan.

” Lius mengharapkan agar pemdes desa wesey harus proaktif, peduli terhadap kondisi jalan dan deker yang sudah dikerjakan pada tahun anggaran 2017 dengan menggunakan dana desa. sehingga masyarakat di Dusun Haeklese maupun masyarakat lainnya, di wilayah desa wesey dapat melakukan mobilitas transportasinya dengan baik, dalam aktivitas kesehariannya”, (FB/Rep).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *