Simpatisan Jeriko Gandeng Aktivis Mahasiswa NTT Dialog Terbuka Soal Praktek Buruk Demokrasi

Kupang,sonafntt-news.com,Simpatisan Jeriko menggelar dialog terbuka tentang Partai Politik dan Praktek  Buruk Demokrasi Partai Demokrat dengan mengundang kurang lebih 30 aktivis mahasiswa. Peserta tersebut merupakan keterwakilan dari 12 OKP Nasional dan Lokal, yang merupakan organisasi mahasiswa dari berbagai Kabupaten/kota di NTT. 

Diskusi tersebut berlangsung di Teras Petuk, Kota Kupang, pada Sabtu (26/02/2022), menyorot kemunduran praktek Demokrasi dalam tubuh Partai Demokrat. 

Koordinator Simpatisan Jeriko, Herison Arianto Kore selaku pemimpin langsung diskusi dalam pengantarnya menjelaskan, bahwa diskusi tersebut merupakan langkah awal menyatukan persepsi tentang fenomena praktek buruk demokrasi yang dilakukan partai politik (Demokrat, red) terhadap Walikota Kupang, Dr. Jefri Riwu Kore.

Menurutnya, alasan Simpatisan Jeriko mengagendakan pertemuan diskusi dengan aktivis mahasiswa, karena mahasiswa adalah salah satu penggerak demokrasi yang belajar berorganisasi. 

“Kami ingin bertemu dengan teman-teman karena kami percaya bahwa teman-teman di OKP belajar tentang berorganisasi dan di dalam organisasi kita belajar tentang demokrasi, hal inilah yang menjadi alasan Simpatisan Jeriko mengundang teman-teman OKP untuk bertukar pikiran sehingga kita bisa menemukan satu titik untuk sepakat bersama-sama memperjuangkan keadilan dalam tatanan hidup berdemokrasi,” ujarnya.

Mantan Ketua BEM Unflor ini juga menjelaskan, bahwa persoalan dalam pelaksanaan Musda Partai Demokrat NTT pada tanggal 15 Oktober 2021 di Hotel Aston diikuti oleh dua calon, yakni Jefri Riwu Kore (Jeriko) dan Leonardus Lelo. 

“Musda ini dimenangkan Jefri Riwu Kore (Jeriko) dengan keunggulan 12-11, namun pada tanggal 5 januari 2022, DPP Partai Demokrat mengumumkan Leo Lelo sebagai Ketua DPD Demokrat NTT via video call.

Hal ini merupakan sebuah kejanggalan berdemokrasi, karena Partai Demokrat mengumumkan seseorang yang kalah sebagai ketua,” ungkapnya. 

Oleh sebab itu, kata Heri, Simpatisan Jeriko menilai praktek buruk demokrasi seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena akan merusak tatanan hidup berdemokrasi di masa depan. 

NN, salah satu mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Undana yang hadir dalam diskusi tersebut mengemukakan, bahwa mekanisme berdemokrasi di Indonesia hanya ada dua hal, yakni musyawarah mufakat, jika tidak ada titik temu maka hasil akhirnya adalah votting. 

“Dalam kronologis yang terjadi, Jeriko melalui semua tahapan ini dan memenangkan hasil Musda. Disini ada sesuatu pola komunikasi yang buruk dalam demokrasi. Oleh sebab itu, harus ada saluran komunikasi yang dibuka untuk menjelaskan persoalan ini. Saluran komunikasi ini bisa dilakukan, jika Ketua Umum Demokrat membuka diri untuk menjelaskan persoalan ini, kalau tidak ini akan menjadi polemic panjang,” jelasnya.

Diskusi yang berlangsung sekitar tiga jam tersebut melahirkan beberapa rekomendasi dukungan terhadap perjuangan Simpatisan Jeriko melawan praktek buruk demokrasi yang dilakukan Partai Demokrat. 

Diantaranya yaitu aktivis mahasiswa dari berbagai OKP yang tergabung dalam diskusi tersebut mendukung penuh perjuangan Simpatisan Jeriko. Mereka akan mengawal proses perjuangan tersebut dengan berbagai macam varian aksi yang akan dilakukan, baik itu dialog ataupun turun ke jalan melakukan aksi damai.

Herison menyampaikan terima kasih atas partisipasi para aktivis mahasiswa, yang bahkan telah rela memberi diri untuk terus berjuang bersama Simpatisan Jeriko melawan praktek buruk demokrasi dan upaya pembunuhan karakter seorang pemimpin yang dilakukan oleh Partai Demokrat. (Sn /tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *