Waingapu, SonafNTT-News.com — Kisah sukses petani bawang merah asal Kelurahan Malumbi, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Hans Tangga Rada Andung, menjadi gambaran bagaimana ketekunan, pengetahuan, akses pembiayaan, dan keberanian mengambil keputusan usaha dapat membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat pedesaan.
Memulai perjalanan usaha bawang merah sejak 2007, Hans tidak hanya bertahan sebagai petani, tetapi juga terus mengembangkan kapasitas diri melalui pelatihan, pengalaman usaha, serta kemitraan pembiayaan dengan Bank NTT Cabang Waingapu.
Perjalanannya dari usaha penggemukan sapi hingga menekuni budidaya bawang merah memperlihatkan bahwa petani lokal memiliki peluang untuk naik kelas apabila didukung akses modal, pengetahuan teknis, infrastruktur pertanian, dan pasar yang memadai.
Kisah Hans pun menghadirkan pesan penting bagi pemerintah pusat dan daerah: penguatan sektor pertanian tidak cukup hanya melalui bantuan sesaat, tetapi membutuhkan ekosistem usaha yang memungkinkan petani tumbuh, produktif, dan semakin mandiri.
Kredit Mikro Menjadi Bagian dari Perjalanan Membangun Usaha
Kepada wartawan pada Selasa, 27 Oktober 2026, Hans menceritakan bahwa dirinya telah menjadi nasabah Bank NTT Cabang Waingapu selama belasan tahun. Selama menjalankan usaha, ia memanfaatkan pembiayaan melalui Program Kredit Mikro Bank NTT untuk mendukung kegiatan produktif, khususnya usaha peternakan dan pengembangan pertanian.

(Nampak m, petani sedang siapkan lahan sebelum Tanam Bawang Merah, dok.istomewa)
Ia mengungkapkan bahwa pinjaman pertamanya sebesar Rp20 juta digunakan untuk mendukung usaha penggemukan sapi. Selanjutnya, ia kembali mengajukan pinjaman Rp20 juta untuk membiayai kegiatan pembelajaran dan pelatihan budidaya bawang merah di Brebes, Jawa Tengah, serta pinjaman berikutnya sebesar Rp20 juta untuk meningkatkan pengetahuan melalui pembelajaran di Nunkurus, Kabupaten Kupang.
Setelah menyelesaikan kewajiban pinjaman sebelumnya, Hans kembali memperoleh pembiayaan sebesar Rp30 juta untuk mengembangkan usaha bawang merah.
Bagi Hans, langkah tersebut bukan sekadar mencari tambahan modal, melainkan bagian dari strategi membangun usaha berdasarkan pengalaman, analisis kondisi lahan, dan peningkatan kemampuan budidaya.
“Dari usaha peternakan, saya bergeser ke bawang merah berdasarkan hasil analisis. Lahan yang sebelumnya dapat dimanfaatkan untuk padi saya arahkan ke tanaman hortikultura, khususnya bawang merah,” jelasnya.
Perjalanan ini memperlihatkan pentingnya pembiayaan produktif yang diiringi perencanaan usaha dan peningkatan kapasitas petani. Kredit dapat menjadi instrumen pengembangan ekonomi apabila dimanfaatkan sesuai kebutuhan usaha, disertai pengelolaan keuangan yang tertib, serta didukung prospek pasar yang memadai.
Belajar ke Brebes dan Nunkurus, Memperkuat Pengetahuan Petani
Kesuksesan Hans tidak dibangun hanya dengan mengandalkan pengalaman di lapangan. Ia juga berupaya memperluas wawasan melalui pelatihan budidaya bawang merah di luar daerah.
Pengalaman belajar di Brebes dan Nunkurus menjadi bagian dari proses meningkatkan pengetahuan tentang komoditas yang kemudian menjadi fokus usahanya. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan salah satu modal penting dalam membangun pertanian yang lebih produktif.
Hans lebih lanjut menguraikan bahwa, mulai mengembangkan bawang merah dalam skala lebih besar sejak 2013, setelah memulai usaha tersebut pada 2007. Dalam perkembangannya, ia memanfaatkan lahan seluas satu hektare dan mengelola kegiatan penanaman dengan melibatkan tenaga kerja.

(Nampak petani sedang bersihkan rumput secara kelompok)
Menurutnya, waktu tanam sangat bergantung pada kondisi musim hujan dan ketersediaan air. Pada kondisi lahan yang sesuai, penanaman dapat dilakukan lebih dari sekali dalam setahun. Sementara itu, dengan dukungan irigasi dari bendungan, budidaya bawang merah memiliki peluang untuk dikembangkan secara lebih terencana.
Ia menyebut hasil panen di lahan satu hektare dapat mencapai sekitar 25 ton dalam kondisi tertentu. Angka ini menjadi gambaran potensi produksi yang dapat dicapai, meskipun hasil aktual tetap bergantung pada varietas, cuaca, pengelolaan lahan, ketersediaan air, serta pengendalian hama dan penyakit.
Potensi Ekonomi Besar, Tetapi Tantangan Modal Masih Nyata
Di balik peluang tersebut, usaha bawang merah membutuhkan modal yang tidak sedikit. Hans menjelaskan bahwa biaya pembersihan lahan, upah tenaga kerja, konsumsi pekerja, biaya produksi, dan operasional dapat mencapai sekitar Rp70 juta dalam satu siklus usaha, sesuai perhitungan yang disampaikannya.
Ia juga menyebut pendapatan bersih yang dapat mencapai Rp200 juta. Angka tersebut perlu dipahami berdasarkan periode usaha dan kondisi panen yang dimaksud, sebab hasil ekonomi pertanian sangat dipengaruhi produktivitas, harga jual, biaya input, serta kondisi pasar.
Tantangan lainnya adalah harga benih. Hans mengungkapkan bahwa benih bawang merah yang digunakannya saat ini dapat mencapai sekitar Rp4 juta per kilogram. Kebutuhan benih dalam pengembangan lahan satu hektare membuat modal awal menjadi salah satu hambatan penting bagi petani.
Pada 2019, ia pernah menerima bantuan dua karung benih dari pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Namun, menurutnya, sebagian besar kebutuhan benih untuk pengembangan usaha tetap dipenuhi melalui pembelian sendiri.

( Bapak Hans Tangga Rada Andung sedang bersihkan rumput, di Kebun Bawang merah, dok.istomewa)
Kondisi ini menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam merancang kebijakan pertanian yang lebih sesuai dengan kebutuhan petani di lapangan. Dukungan tidak hanya diperlukan dalam bentuk benih, tetapi juga akses pembiayaan yang terjangkau, pendampingan teknis, sarana produksi, penguatan irigasi, dan kepastian pemasaran.
Kebutuhan Bawang Merah di Sumba Membuka Peluang Pengembangan
Hans menilai kebutuhan bawang merah di daratan Sumba masih tinggi. Hasil panennya dipasarkan ke empat kabupaten di wilayah Sumba, sehingga komoditas tersebut memiliki peluang untuk memperluas jangkauan pasar.
Menurut perkiraannya, pengembangan bawang merah hingga sekitar 40 hektare diperlukan untuk menjawab kebutuhan pasar di wilayah Sumba. Angka tersebut merupakan pandangan dan aspirasi petani berdasarkan pengalamannya, sehingga tetap perlu didukung kajian permintaan pasar, produktivitas, ketersediaan air, kesesuaian lahan, dan kelayakan usaha.
Baginya, apabila dikembangkan secara bertahap dan terencana, budidaya bawang merah berpotensi menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal. Namun, perluasan lahan harus disertai perhitungan risiko, pengaturan pola tanam, akses penyimpanan, penanganan pascapanen, dan strategi pemasaran agar peningkatan produksi tidak justru menimbulkan kelebihan pasokan atau penurunan harga.
“Inilah ruang kolaborasi yang dapat diperkuat oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, lembaga keuangan, kelompok tani, dan pelaku pasar” tuturnya
Mengembangkan Usaha Bersama 25 Petani
Hans tidak mengembangkan usahanya dalam ruang yang terpisah dari masyarakat. Ia menyebut kegiatan budidaya bawang merah dilakukan bersama kelompok yang beranggotakan sekitar 25 orang. Sebagian anggota masih menjalankan usaha dalam skala kecil.
Pengalaman Hans yang memulai dari usaha sederhana pada 2007 dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani lain mengenai pentingnya ketekunan, peningkatan keterampilan, dan pengelolaan usaha secara bertahap.
Pola kerja kelompok juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pertanian, mulai dari persiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga panen. Meski demikian, penguatan kelompok memerlukan pendampingan agar pembagian kerja, pencatatan produksi, akses modal, dan pemasaran berjalan semakin baik.

(Para petani pose saat panen bawang merah)
Dampak ekonomi pertanian semestinya tidak hanya diukur dari pendapatan satu pelaku usaha, tetapi juga dari kesempatan kerja, peningkatan kemampuan petani, pertumbuhan usaha kecil, dan manfaat yang dirasakan masyarakat di sekitarnya.
Penghasilan Pertanian untuk Masa Depan Keluarga
Di waktu yang sama Hans juga menyampaikan keberhasilan usaha tidak hanya berbicara tentang luas lahan, jumlah produksi, atau besarnya pendapatan. Ia juga memaknai hasil pertanian sebagai jalan untuk membangun masa depan keluarga.
Ia menyampaikan bahwa sebagian pendapatan digunakan untuk menyekolahkan keempat anaknya, yang kini telah menyelesaikan pendidikan sarjana (S1). Selain itu, sebagian hasil usaha kembali disisihkan untuk membiayai kegiatan produksi pada musim tanam berikutnya.
“Pola menyisihkan pendapatan untuk pendidikan keluarga dan modal usaha menunjukkan pentingnya perencanaan keuangan dalam membangun usaha pertanian jangka panjang” ujarnya
Bank NTT Dorong Penguatan Usaha dan Kemandirian Petani
Kepala Bank NTT Cabang Waingapu, Yusuf Hanggar Mawolu, S.E., menyampaikan apresiasi atas usaha bawang merah yang dikembangkan Hans Tangga Rada Andung.
Menurut Yusuf, pengembangan usaha tersebut memiliki peluang untuk terus ditingkatkan, dengan tetap memperhatikan kualitas hasil produksi, pencatatan penjualan, dan ketertiban laporan usaha.
Ia menekankan bahwa pengelolaan administrasi yang baik akan membantu petani mengetahui perkembangan usahanya, mengevaluasi biaya produksi, dan mempersiapkan kebutuhan modal untuk musim tanam berikutnya.
Yusuf juga menyarankan agar Hans memperkuat kerja sama dengan Jamkrida dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat membuka ruang dukungan yang lebih luas bagi pengembangan usaha.
Ia menyampaikan bahwa Bank NTT akan melakukan survei lapangan untuk meninjau kebutuhan penguatan modal usaha bawang merah Hans.
Menurutnya, usaha tersebut berpotensi membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan memberikan kontribusi terhadap upaya peningkatan kesejahteraan warga.
Yusuf menilai pengalaman Hans dalam budidaya bawang merah dapat menjadi sumber pembelajaran bagi petani lain. Selain mengelola usahanya sendiri, Hans disebut telah memberikan pendampingan dan pelatihan kepada petani di wilayah Kabupaten Sumba Timur sesuai kebutuhan.
Ia menegaskan bahwa survei lapangan menjadi salah satu indikator penting untuk penguatan modal dan menjadi langkah yang perlu ditindaklanjuti melalui penilaian kelayakan usaha, kebutuhan pembiayaan, kemampuan pembayaran, dan prospek pasar agar dukungan yang diberikan dapat berkelanjutan guna pengembangan usaha bawang merah dalam skala yang lebih besar untuk menjawab kebutuhan pasar di empat Kabupaten lingkup Sumba












