Flores, SonafNTT-News.com — Pasca gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores beberapa waktu lalu, perhatian terhadap kondisi masyarakat dan infrastruktur vital terus dilakukan. Dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat secara langsung, tetapi juga menyentuh sejumlah infrastruktur sumber daya air, jaringan irigasi, hingga rumah pompa air baku di sejumlah wilayah.
Merespons kondisi tersebut, Kepala Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Satker OP SDA) Nusa Tenggara II melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemanfaatan Irigasi Air Tanah, Gozali Mamud, turun langsung bersama tim untuk melakukan monitoring dan survei di sejumlah wilayah terdampak.
Langkah tersebut dilakukan guna memastikan kondisi infrastruktur secara langsung di lapangan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan penanganan sesuai tugas dan kewenangan yang dimiliki.
Gozali Mamud saat dikonfirmasi awak media, Senin (7/9/2026), menjelaskan bahwa respons terhadap dampak gempa telah dilakukan sejak awal kejadian. Saat itu dirinya berada di Maumere dan bersama tim kemudian bergerak menuju Larantuka.
“Pada saat itu saya berada di Maumere, kemudian bersama tim ke Larantuka. Malam itu kami langsung melakukan rapat darurat,” ujar Gozali.
Menurutnya, pada 15 Agustus 2026, Kepala Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II juga langsung berangkat ke Flores. Selanjutnya, jajaran pimpinan Balai Wilayah Sungai, Satker OP, dan tim terkait melakukan survei serta identifikasi terhadap daerah-daerah yang mengalami dampak langsung akibat gempa.
Penanganan tersebut sekaligus menjadi bagian dari persiapan menghadapi kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke wilayah terdampak.
Tim Bergerak, Infrastruktur Terdampak Mulai Ditangani
Gozali menyampaikan, berkat kerja sama seluruh tim, penanganan darurat terhadap jaringan irigasi dan infrastruktur terkait di sejumlah titik terdampak telah dilakukan dengan baik.
Kondisi di lapangan, kata dia, tidak selalu mudah. Aktivitas gempa yang masih terjadi menjadi salah satu tantangan dalam proses penanganan.
Meski demikian, tim tetap melakukan langkah-langkah penanganan berdasarkan kondisi dan tingkat kerusakan yang ditemukan di lapangan.
“Berkat kerja sama yang baik seluruh tim, penanganan darurat jaringan irigasi dan Bina Marga di beberapa titik yang terdampak sudah dilakukan dengan baik, meskipun kadang masih adanya gempa bumi,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses anggaran untuk penanganan pascagempa masih berjalan. Namun, perhatian dari jajaran Kementerian Pekerjaan Umum terhadap kondisi Flores terus dilakukan, mulai dari tingkat pimpinan hingga jajaran teknis.
Rumah Pompa Rusak, Krisis Air Bersih Jadi Perhatian
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius adalah kerusakan sejumlah rumah pompa air baku dan jaringan irigasi
Menurut Gozali, kerusakan tersebut tersebar di sejumlah wilayah, mulai dari Manggarai Barat hingga Sikka. Kondisi beberapa infrastruktur bahkan dinilai cukup memprihatinkan sehingga membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Untuk mengatasi rumah pompa air yang rusak ke depan akan dilakukan pengeboran air,” ungkapnya.
Langkah pengeboran air tersebut juga akan diarahkan ke wilayah Palue. Kawasan ini menjadi salah satu daerah yang menghadapi persoalan air bersih cukup serius pasca gempa.
Gozali menjelaskan bahwa hingga saat ini di Palue terdapat satu titik sumur air tawar yang menjadi salah satu sumber air masyarakat. Keterbatasan sumber air tersebut membuat masyarakat harus menghadapi kondisi sulit untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Bahkan, dalam kondisi tertentu masyarakat disebut masih memanfaatkan sumber air tawar maupun air asin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Termasuk di Palue akan segera dilakukan pengeboran air karena hingga saat ini ada satu titik sumur air tawar. Di situ masyarakat kekurangan air bersih,” katanya.
Palue Jadi Perhatian Khusus
Kondisi masyarakat Palue menjadi salah satu gambaran nyata dampak pascagempa terhadap kebutuhan dasar masyarakat.
Tidak hanya kerusakan fisik bangunan dan infrastruktur, keterbatasan sumber air bersih menjadi persoalan yang harus segera mendapatkan solusi. Karena itu, rencana pengeboran air diharapkan dapat menjadi salah satu langkah konkret untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pemerintah melalui jajaran teknis sumber daya air terus melakukan identifikasi dan pemetaan terhadap kebutuhan penanganan di lapangan. Penanganan tidak hanya difokuskan pada pemulihan infrastruktur yang rusak, tetapi juga memastikan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya air bersih, mendapat perhatian.
Pelabuhan Maumere Ikut Terdampak
Selain jaringan irigasi dan rumah pompa, Gozali juga menyinggung kondisi infrastruktur di Maumere. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah kawasan pelabuhan.
Menurutnya, kondisi pelabuhan Maumere pascagempa tergolong cukup parah sehingga membutuhkan perhatian dan penanganan lebih lanjut.
“Dengan cakupan dampak yang membentang di sejumlah wilayah Flores, penanganan pascagempa membutuhkan kerja sama lintas sektor dan koordinasi yang kuat. Pemerintah, jajaran teknis, serta seluruh tim di lapangan dituntut bergerak cepat agar infrastruktur vital yang menyangkut kebutuhan masyarakat dapat segera dipulihkan.
Ia menambahkan, di tengah proses pemulihan tersebut, persoalan air bersih menjadi salah satu tantangan paling mendesak. Rencana pengeboran air di Palue dan penanganan rumah pompa yang rusak menjadi langkah yang diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat terdampak.












