Kupang, SonafNTT-News.com — Upaya memperkuat ketahanan pangan di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus ditingkatkan melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi pertanian. Melalui program Percepatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dengan pola padat karya masyarakat, sebanyak 53 lokasi menjadi sasaran kegiatan yang dilaksanakan oleh Satuan Kerja Operasi dan Pemeliharaan Sumber Daya Air (Satker OP SDA) Nusa Tenggara II melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Operasi dan Pemanfaatan Irigasi Air Tanah.
Program yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum melalui Direktorat Bina Operasi dan Pemeliharaan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung sektor pertanian.
PPK Operasi dan Pemanfaatan Irigasi Air Tanah, Gozali Mamud, ST, MT, saat dikonfirmasi wartawan pada senin 7/9/2026 menjelaskan bahwa kegiatan di lapangan difokuskan pada pembangunan jaringan irigasi baru maupun rehabilitasi jaringan yang sudah ada. Pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat serta rencana teknis yang telah disusun oleh tenaga pendamping.
“Irigasinya bisa bangun baru dan rehabilitasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Gozali.
Ia menjelaskan, berdasarkan ketentuan teknis, target pekerjaan minimal mencapai 250 meter, namun panjang pekerjaan dapat disesuaikan dengan rencana teknis serta kebutuhan di masing-masing lokasi.
50 Lokasi Capai 100 Persen
Dari total 53 lokasi yang dikerjakan di NTT, progres pekerjaan menunjukkan perkembangan positif. Sebanyak 50 lokasi telah mencapai progres 100 persen, sementara tiga lokasi lainnya masih berada di bawah 50 persen.
“Untuk NTT kami melakukan 53 lokasi. Yang sudah 100 persen ada 50 lokasi, sedangkan tiga lokasi progresnya masih di bawah 50 persen. Kita targetkan minggu depan sudah mencapai 50 persen,” jelasnya.
Dengan pola pelaksanaan tersebut, pemerintah optimis seluruh kegiatan dapat diselesaikan sesuai jadwal. Berdasarkan ketentuan pencairan, dana diberikan dalam dua tahap, yakni 70 persen pada tahap pertama dan 30 persen pada tahap kedua.dan Seluruh pekerjaan ditargetkan rampung pada 27 September 2026.
Rp10,3 Miliar, Langsung Dikelola Kelompok Masyarakat
Program tahun ini melibatkan 53 kelompok masyarakat. Setiap lokasi mendapatkan pendampingan dari tenaga P3L, sementara dana bantuan disalurkan langsung ke rekening kelompok penerima.
Masing-masing lokasi mendapatkan dukungan anggaran sebesar Rp195 juta, dengan total keseluruhan anggaran untuk 53 lokasi mencapai sekitar Rp10,3 miliar.
Skema ini menjadi salah satu poin penting dalam pelaksanaan program karena masyarakat penerima manfaat tidak hanya menjadi pihak yang menikmati hasil pembangunan, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengerjaan.
Menurut Gozali, pelaksanaan program tersebut berjalan dengan baik meskipun terdapat cuaca di sejumlah wilayah, khususnya Timor Tengah Utara (TTU), Belu, dan Malaka yang kurang bersahabat
“Kondisi cuaca di Kabupaten TTU, Belu dan Malaka kurang bagus. Namun kami optimis semua pekerjaan dapat diselesaikan tepat waktu,” katanya.
Tidak Dikontrakkan, Masyarakat Jadi Pelaksana
Hal yang menarik perhatian dalam program ini adalah mekanisme pelaksanaan pekerjaan. Gozali menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak dikontrakkan kepada pihak ketiga.
Pekerjaan secara teknis dilakukan langsung oleh kelompok penerima manfaat atau masyarakat di masing-masing lokasi.
Sementara pihak Satker OP SDA Nusa Tenggara II melalui kami pelaksana teknis menjalankan fungsi pengawasan dan pengendalian agar pekerjaan memenuhi standar kualitas dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan.
“Sesuai ketentuan yang berlaku, pekerjaan tersebut tidak dikontrakkan ke pihak ketiga. Semua pekerjaan langsung dikerjakan penerima manfaat, dan kami hanya mengontrol agar pekerjaan mengutamakan kualitas sesuai spesifikasi,” tegas Gozali.
Model pelaksanaan berbasis masyarakat tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat ganda. Selain memperbaiki akses air untuk lahan pertanian, kegiatan padat karya juga membuka ruang keterlibatan masyarakat dalam pembangunan infrastruktur di wilayah mereka sendiri.
Menjaga Air, Menjaga Produksi Pangan
Gosali lebih lanjut menerangkan bahwa, program ini merupakan upaya Pembangunan dan rehabilitasi irigasi memiliki peran strategis bagi NTT yang sektor pertaniannya sangat bergantung pada ketersediaan air. Infrastruktur irigasi yang memadai dapat membantu petani mengoptimalkan pemanfaatan lahan sekaligus meningkatkan kepastian pengelolaan air untuk kegiatan pertanian.
Karena itu, percepatan 53 kegiatan irigasi tersebut bukan sekadar mengejar penyelesaian fisik. Lebih jauh, program ini menjadi bagian dari upaya menyediakan infrastruktur dasar pertanian yang dapat mendukung produktivitas dan ketahanan pangan masyarakat.
Ia menegaskan bahwa dengan 50 lokasi telah mencapai 100 persen, tiga lokasi yang masih tertinggal menjadi perhatian untuk segera dikebut. Tantangan cuaca pun tidak menyurutkan optimisme Satker OP SDA Nusa Tenggara II untuk mengejar target penyelesaian.












