Perkuat Layanan Publik, Kakan Kemenag Agama Lantik 22 Badan Pengurus Pokjaluh Agama Katolik

Sonafntt-news.com.Kefamenanu Dalam rangka memperkuat pelayanan publik  dan memaksimalkan sistem koordinasi, management serta proses pelayanan ke-71 penyuluh agama katolik PNS dan  non PNS yang telah terpilih, kepala kantor kementerian Agama (Kakan Kemenag) melantik 22 badan pengurus program kerja penyuluh (Pokjaluh) Agama Katolik periode 2022-2024 di Aula Kemenag, (Kamis,10/02/2022). 

Susunan badan pengurus pokjaluh agama katolik periode 2022-2024 meliputi: Antonius Mauloko, S.Fil (Ketua), Antonius Naikofi, S.Pd (Wakil Ketua), Wenseslaus Lakamnasi, S.Ag (Sek.1), Marianus A. Natun, S.Fil (Sek. 2), Vinsensius Sito, S.Ag dan Anggelina Rona Bata, S.Pd dipercayakan sebagai bendahara 1 dan 2. Kepengurusan inti ini ditopang oleh empat bidang seksi yakni, humas, publikasi dan dokumentasi, kerohanian, pengembangan profesi dan sumber daya serta bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Semua kepengurusan ini terpilih secara aklamasi oleh seluruh penyuluh agama katolik.

Dalam upacara pelantikan ini, hadir juga beberapa pejabat penting dalam lingkup kantor kementerian  agama yakni, Kepala Sub Bagian Tata Usaha, Yohanes Sain, S.Ag, Kepala Seksi Pendidikan Katolik, Dominggus Faria, A.Ma, Kepala Seksi Urusan Agama Katolik, Thimoteus Kolo, S.H,M.H, Kepala Seksi Bimas Kristen, Nakir Kolloh, S.Pd, Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam, Suhardinal, S.S.Ag, penyelenggara Haji dan Umrah, Yayan Mulyana, S.Ag beberapa pagawai kemenag, serta seluruh penyuluh agama katolik.

Kepala kantor Kemenag TTU, Fransiskus Xaverius Kehi, S.Ag dalam sambutannya menegaskan bahwa penyuluh sebagai agen pemerintah dan gereja perlu memperhatikan beberapa point penting yakni; pertama, para pengurus Pokjaluh dan juga penyuluh yang lain dilantik untuk kerja bukan hanya memikul nama sebagai penyuluh (nomen est omen). Jadi perlu menunjukkan indentitas dan karakter yang baik sebagai penyuluh. Perlu menyusun program kerja sesuai dengan anggaran dasar (AD) dan anggaran dasar rumah tangga (ADRT). 

Kedua, Seorang penyuluh perlu menunjukkan aksi dengan mengikuti mekanisme yang ada. Adakan pertemuan berkala untuk saling memperkaya bahkan saling mengajar. Ketiga, Seorang penyuluh harus terlibat mendukung pemerintah dengan mensosialisasikan Surat Edaran yang berikan dan juga program-program lain dari pemerintah. Keempat, sebagai agen pemerintah dan gereja, harus selalu berada di posisi netral sehingga selalu tercipta keseimbangan di antara masyarakat dan pemerintah.

Point kelima adalah, seorang penyuluh harus menjaga kebersamaan. Karena kita ini kelompok dan bukan individu. Harus saling mengisi dan berbagi. Dan yang terakhir adalah adanya kedisiplinan dan tanggung jawab yang total dalam menjalankan tugas sebagai agen gereja dan pemerintah. 

“Harapan saya, teman-tan perlu menjaga kepercayaan yang sudah diberikan. Sadari bahwa ini adalah sebuah kepercayaan besar dari Tuhan. Ini semua karena penyelenggaraan ilahi”, tandas Frans Kehi. (BA/SN).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *