Rote Ndao, SonafNTT-News.com. Lautan manusia memadati Lapangan Ombok, Desa Busalangga Barat, Kecamatan Rote Barat Laut, Kamis (2/7/2026). Ribuan warga dari berbagai wilayah datang menyaksikan kemegahan Festival Hus Kuda Usman Husin Cup II, sebuah perhelatan budaya yang tidak hanya menampilkan parade ratusan kuda berhias adat, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan budaya, pariwisata, dan ekonomi masyarakat Pulau Rote.
Suara gong yang menggema berpadu dengan derap ratusan kuda yang memasuki arena, menciptakan suasana penuh semangat dan kebanggaan. Para penunggang tampil gagah mengenakan busana adat Rote lengkap dengan topi khas Ti’i Langga, sementara tarian tradisional mengiringi jalannya parade budaya yang memukau ribuan pasang mata.
Festival yang diinisiasi Anggota DPR RI Komisi IV Fraksi PKB Daerah Pemilihan NTT II, Usman Husin, menjadi bukti bahwa warisan budaya lokal memiliki kekuatan besar untuk berkembang menjadi atraksi wisata unggulan yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, Festival Hus Kuda membawa misi besar menjadikan tradisi leluhur masyarakat Rote sebagai agenda budaya tahunan yang mampu menggerakkan sektor pariwisata sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pemberdayaan pelaku UMKM.
“Gerakan Hus Kuda ini harus semakin dikenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di dunia. Ke depan kami ingin mengembangkan festival ini menjadi lebih besar dengan memadukan atraksi Hus Kuda dan pacuan kuda sehingga mampu menarik lebih banyak wisatawan dan mengangkat nama Rote Ndao di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Usman Husin.
Antusiasme masyarakat yang memadati lokasi festival menunjukkan bahwa Hus Kuda memiliki daya tarik yang sangat besar. Kondisi ini menjadi modal penting bagi Rote Ndao untuk mengembangkan wisata berbasis budaya yang berkelanjutan.
Dampak ekonomi dari penyelenggaraan festival pun mulai terasa. Kehadiran ribuan pengunjung memberikan peluang bagi pedagang makanan, perajin tenun, pelaku usaha kecil, hingga penjual cendera mata untuk meningkatkan pendapatan. Aktivitas ekonomi masyarakat bergerak lebih dinamis selama berlangsungnya festival.
Kepala Desa Busalangga Barat, Mikael Arnolus Lute, berharap penyelenggaraan Festival Hus Kuda terus dipusatkan di wilayahnya. Ia juga mengusulkan agar sebelum festival dimulai diselenggarakan bazar UMKM selama satu minggu sehingga masyarakat memiliki waktu yang lebih panjang untuk memasarkan produk lokal kepada para pengunjung.
“Festival ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat. Jika bazar UMKM dilaksanakan lebih lama, dampaknya terhadap ekonomi warga tentu akan semakin besar,” katanya.
Dukungan terhadap pelestarian budaya juga datang dari Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono. Menurutnya, Hus Kuda merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi sekaligus menjadi aset pariwisata yang harus terus dijaga dan dikembangkan.
Ia mengingatkan bahwa tradisi Hus Kuda pernah mengharumkan nama Kabupaten Rote Ndao melalui pencapaian Rekor MURI pada tahun 2023. Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu mendapat pengakuan di tingkat nasional apabila dikelola secara serius dan berkelanjutan.
“Kami berharap Festival Hus Kuda kembali mampu memecahkan Rekor MURI dan semakin dikenal hingga tingkat internasional. Pelestarian budaya adalah tanggung jawab bersama karena di dalamnya terdapat identitas, sejarah, sekaligus potensi ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Koordinator kegiatan, Eran Harbona Sipa, mengakui antusiasme masyarakat tahun ini jauh melampaui perkiraan panitia. Sejak pagi, ribuan warga telah memadati arena festival untuk menyaksikan parade budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Pulau Rote.
Keberhasilan Festival Hus Kuda Usman Husin Cup II memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya menjaga identitas daerah, tetapi juga mampu menjadi penggerak pembangunan ekonomi. Ketika tradisi dikemas secara profesional, didukung promosi yang kuat, serta melibatkan masyarakat dan pelaku UMKM, budaya berubah menjadi kekuatan ekonomi yang menciptakan lapangan usaha dan menarik kunjungan wisatawan.
Festival Hus Kuda kini tidak lagi dipandang sekadar tradisi tahunan masyarakat Rote. Perhelatan ini telah berkembang menjadi panggung kebudayaan yang mempertemukan nilai-nilai adat, potensi pariwisata, kreativitas UMKM, dan semangat gotong royong masyarakat.
Ia menegaskan dukungan pemerintah, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan, Festival Hus Kuda memiliki peluang besar untuk tumbuh sebagai salah satu agenda wisata budaya unggulan Indonesia. Dari Pulau Rote, semangat melestarikan budaya terus berkobar, sekaligus membuka jalan menuju peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang produktif serta berkelanjutan.












