Utamakan Kualitas dan Ketahanan, Penanganan Longsor Henes–Motamasin Capai 82 Persen

IMG-20260901-WA0008(1)

Belu, Sonafntt-news.com Penanganan longsor di ruas jalan Henes–Motamasin, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, terus dikebut. Hingga Selasa (1/9/2026), progres pekerjaan yang dilaksanakan dalam penanganan ruas jalan tersebut telah mencapai 82 persen.

Capaian ini menjadi kabar positif bagi masyarakat, khususnya warga yang selama ini bergantung pada akses Henes–Motamasin untuk mendukung mobilitas, distribusi barang, maupun aktivitas ekonomi menuju wilayah Laktutus.

Pergerakan tanah dan longsor sebelumnya sempat mengganggu kelancaran akses transportasi. Kondisi tersebut tidak hanya menyulitkan perjalanan masyarakat, tetapi juga berpotensi meningkatkan biaya logistik karena kendaraan harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh.

Kini, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Nusa Tenggara Timur terus mendorong percepatan penanganan dengan tetap memperhatikan aspek kualitas dan ketahanan konstruksi.

Pelaksana Pekerjaan, Direktur CV Claudia, Johanes Nahak Klau, saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (1/9/2026), mengatakan pihaknya terus bekerja dan mengoptimalkan potensi yang ada sesuai ketentuan konstruksi.

“Kami terus kerja dan mengoptimalkan potensi yang ada sesuai ketentuan konstruksi dan mengutamakan kualitas,” ujar Johanes.

Ia lanjut menguraikan bahwa, Penanganan longsor di ruas Henes–Motamasin tidak sekadar mengejar agar kendaraan kembali bisa melintas. Aspek ketahanan struktur menjadi perhatian penting agar jalan yang telah diperbaiki tidak kembali mengalami gangguan ketika menghadapi kondisi alam maupun pergerakan tanah.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat struktur lereng jalan dengan konstruksi bore pile. Penguatan ini diharapkan mampu meningkatkan kestabilan lereng sekaligus memberikan perlindungan terhadap potensi longsor kembali.

Langkah tersebut menjadi penting mengingat kerusakan akibat longsor dapat memberikan dampak berantai terhadap masyarakat. Ketika akses jalan terganggu, waktu tempuh meningkat, biaya distribusi bertambah, dan aktivitas ekonomi warga ikut terdampak.
Karena itu, pekerjaan penanganan harus mampu memberikan solusi yang tidak hanya cepat, tetapi juga memiliki ketahanan dalam jangka panjang.

Akses Laktutus Jadi Perhatian

Pemulihan ruas Henes–Motamasin memiliki nilai strategis bagi konektivitas masyarakat menuju Laktutus dan kawasan sekitarnya. Selain itu dengan pulihnya akses tersebut, kendaraan diharapkan tidak lagi harus bergantung pada jalur alternatif yang lebih jauh. Efisiensi waktu perjalanan dan biaya operasional pun dapat kembali ditekan.

Kelancaran akses juga diharapkan mempercepat distribusi kebutuhan masyarakat serta berbagai komoditas ekonomi. Pada akhirnya, kondisi jalan yang kembali normal dapat membantu masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi secara lebih produktif.

Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan bahwa, Progres pekerjaan fisik sudah mencapai 82 persen dan hal ini menunjukkan bahwa pekerjaan penanganan longsor Henes–Motamasin telah memasuki tahap yang signifikan. Namun, capaian tersebut juga menjadi tugas bersama untuk memastikan seluruh pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik sesuai standar  konstruksi yang ditetapkan.

Exit mobile version