ENDE, NTT, SonafNTT-News.com. keluarga yang rumahnya terdampak gempa, tetapi hingga beberapa hari setelah bencana belum tersentuh bantuan.
Kenyataan inilah yang mendorong tim GAMKI Peduli Flores di Kabupaten Ende memilih tidak hanya menunggu warga datang ke posko, tetapi bergerak dari rumah ke rumah mencari dan menjangkau keluarga yang membutuhkan.
Pada Sabtu (29/8/2026), DPD Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) NTT bersama DPC GAMKI Ende dengan dukungan DPP gamki dan Cartenz Technology menyalurkan bantuan tanggap darurat kepada 25 Kepala Keluarga (KK) terdampak gempa bumi di Kabupaten Ende.
Sebanyak 15 KK berada di Kelurahan Lokoboko, sedangkan 10 KK lainnya berada di lingkungan pelayanan Jemaat GMIT Syalom Ende.
Penentuan penerima manfaat dilakukan melalui pendataan dan koordinasi bersama Badan Tanggap Bencana GMIT Syalom Ende, sehingga bantuan dapat diarahkan kepada keluarga yang dinilai membutuhkan dukungan segera.
Memilih Mengetuk Pintu Warga
Berbeda dengan pola pembagian bantuan yang terpusat di satu lokasi, tim GAMKI Peduli Flores memilih melakukan distribusi secara door-to-door.
Tim mendatangi keluarga terdampak satu per satu untuk memastikan bantuan diterima langsung oleh penerima manfaat. Bantuan yang diberikan berupa paket kebutuhan pangan keluarga, antara lain beras, telur, minyak goreng dan gula pasir. Keluarga yang memiliki anak balita juga memperoleh tambahan kebutuhan berupa popok/pampers.
Pendekatan ini sekaligus memungkinkan tim melihat secara langsung kondisi keluarga pasca gempa serta mendengar kebutuhan mereka.
Penyaluran bantuan dipimpin Koordinator Daerah VI GAMKI Flores-Lembata Eva Huma, didampingi Ketua DPC GAMKI Ende Pieter Th. Tonael, Wakil Ketua I Bobby Watik, Koordinator Seksi Tanggap Bencana Djibrael Kore, serta anggota tim Jeckson Lay.
“GAMKI yang Pertama Datang ke Rumah Kami”
Salah satu temuan yang menyentuh tim terjadi di Kelurahan Lokoboko. Sejumlah warga menyampaikan bahwa sejak gempa terjadi, GAMKI merupakan organisasi pertama yang datang langsung ke rumah mereka membawa bantuan.
Bagi Ketua DPC GAMKI Ende Pieter Th. Tonael, pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa dalam penanganan bencana, tantangannya bukan hanya mengenai ketersediaan bantuan, tetapi juga memastikan bantuan menjangkau keluarga yang mungkin luput dari distribusi.
Menurut Pieter, GAMKI sebagai organisasi kader pemuda Kristen memiliki panggilan untuk hadir di tengah masyarakat, terutama ketika warga sedang berada dalam situasi sulit.
“Kami tidak ingin bantuan hanya berhenti di tempat yang mudah dijangkau. Karena itu kami bersama teman-teman turun dan mendatangi warga dari rumah ke rumah. Bagi kami, yang terpenting bukan sekadar membawa paket bantuan, tetapi memastikan saudara-saudara kita mengetahui bahwa dalam keadaan seperti ini mereka tidak sendirian,” ujar Pieter.
Ia mengatakan pengalaman menemui keluarga yang belum memperoleh bantuan juga menjadi catatan penting bagi seluruh pihak agar distribusi bantuan pasca bencana terus diperbaiki dan menjangkau kelompok yang belum terlayani.
Pemerintah Kelurahan Sampaikan Apresiasi
Lurah Lokoboko, Andre, menyampaikan apresiasi atas kehadiran GAMKI Peduli Flores dan bantuan yang diberikan kepada masyarakat terdampak.
“Saya, Lurah Lokoboko, atas nama pemerintah dan warga masyarakat yang terdampak, menyampaikan limpah terima kasih kepada DPD GAMKI NTT melalui DPC GAMKI Ende yang berkenan hadir membantu warga masyarakat yang terdampak. Semoga bantuan ini dapat bermanfaat bagi masyarakat dan kita berharap ke depan keadaan semakin pulih sehingga warga dapat kembali beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Dari Bantuan Darurat Menuju Pemulihan
Ketua DPD GAMKI NTT Winston Neil Rondo mengatakan gerakan GAMKI Peduli Flores sejak awal diarahkan untuk menjadi gerakan solidaritas yang bekerja berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Menurutnya, pengalaman di Ende memperlihatkan pentingnya pendataan penerima bantuan yang semakin akurat dan koordinasi antar lembaga agar tidak terjadi penumpukan bantuan pada lokasi tertentu sementara keluarga lain terlewatkan.
“Dalam bencana, persoalannya bukan hanya berapa banyak bantuan yang tersedia, tetapi apakah bantuan itu menemukan orang yang paling membutuhkannya. Karena itu saya mengapresiasi kawan-kawan GAMKI Ende dan Badan Tanggap Bencana GMIT Syalom Ende yang memilih turun, mengetuk pintu rumah warga dan mencari mereka yang mungkin belum terjangkau.”
Ia menegaskan bahwa GAMKI Peduli Flores juga tidak boleh berhenti pada fase pembagian bantuan tanggap darurat. Setelah kebutuhan paling mendesak terpenuhi, perhatian perlu bergerak menuju pemulihan kehidupan masyarakat, termasuk kebutuhan kelompok rentan dan pemulihan sosial-ekonomi keluarga terdampak.
“Gempa merusak dalam hitungan detik, tetapi memulihkan kehidupan membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu solidaritas jangan selesai ketika masa tanggap darurat berakhir. Kita harus berjalan bersama masyarakat dari fase bertahan menuju fase bangkit.”
Gerakan GAMKI Peduli Flores menjadi bagian dari ikhtiar tersebut: hadir di tengah keterbatasan, menjangkau mereka yang belum terjangkau, dan membangun kolaborasi agar tidak ada keluarga terdampak yang merasa ditinggalkan.
Sebab dalam bencana, bantuan yang paling berarti bukan selalu yang paling besar. Kadang ia adalah bantuan yang akhirnya tiba di sebuah pintu yang terlalu lama menunggu diketuk.
Flores terluka, tetapi Flores tidak sendiri. Dari Ende, solidaritas terus bergerak.
