Dari Sumba, Rote Ndao, Kabupaten Kupang hingga TTS, 173 Anak NTT Berhasil Tembus Perguruan Tinggi Berkat Program Beasiswa Usman Husin

Screenshot_20261105-144134_Chrome

Kupang, SonafNTT-News.com – Kesempatan mengenyam pendidikan tinggi kini semakin terbuka bagi anak-anak Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah keterbatasan ekonomi yang masih menjadi tantangan bagi banyak keluarga, program beasiswa penuh yang diperjuangkan Anggota DPR RI Fraksi PKB Dapil NTT II, Usman Husin, telah membuka jalan bagi 173 anak NTT untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Surabaya sepanjang 2025 hingga 2026.

Angka tersebut bukan sekadar statistik penerima bantuan pendidikan. Di baliknya terdapat 173 mimpi, harapan keluarga, serta masa depan generasi muda NTT yang kini memiliki kesempatan lebih luas untuk mengenyam pendidikan di perguruan tinggi.

Program ini juga menjadi gambaran mengenai akses pendidikan dapat menjangkau anak-anak dari berbagai wilayah, bukan hanya mereka yang tinggal di pusat perkotaan, tetapi juga generasi muda dari daerah kepulauan dan pelosok NTT.

Mulai dari empat kabupaten di Pulau Sumba, Rote Ndao, Kabupaten Kupang hingga Timor Tengah Selatan (TTS), kesempatan memperoleh pendidikan tinggi melalui program beasiswa tersebut telah dirasakan oleh anak-anak dari berbagai latar belakang keluarga.

Dua Tahun, 173 Anak Mendapat Kesempatan Kuliah

Berdasarkan data yang dihimpun, sebanyak 91 anak NTT memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi pada 2025. Sementara sepanjang 2026, jumlah penerima beasiswa mencapai 82 orang.

Dengan demikian, total penerima beasiswa selama dua tahun terakhir mencapai 173 orang. Untuk diketahui khusus pada 2026, penerima beasiswa berasal dari sejumlah kabupaten. Sebanyak 44 anak berasal dari Pulau Sumba, meliputi Sumba Barat Daya, Sumba Barat, Sumba Tengah, dan Sumba Timur.

Kemudian, tujuh anak berasal dari Kabupaten Rote Ndao, 18 anak dari Kabupaten Kupang, serta 13 anak dari Kabupaten Timor Tengah Selatan.

Sebaran tersebut memperlihatkan bahwa kesempatan pendidikan tinggi melalui program ini telah menjangkau sejumlah wilayah dengan kondisi geografis dan tantangan akses pendidikan yang berbeda

Tiga Anak Kabupaten Kupang Jadi Penutup Pemberangkatan 2026

Perjalanan program beasiswa tahun 2026 ditandai dengan pemberangkatan tiga calon mahasiswa asal Kabupaten Kupang pada 31 Oktober 2026.

Ketiganya adalah Eti Bani, Desi Elisabet Oematan, dan Rut Susana Humau yang akan melanjutkan pendidikan di Universitas Sunan Giri, Surabaya.

Mereka diberangkatkan menggunakan kapal laut melalui Pelabuhan Tenau Kupang. Keberangkatan tersebut sekaligus menjadi gelombang terakhir pemberangkatan penerima beasiswa untuk tahun 2026.

Tenaga Ahli Anggota DPR RI Usman Husin wilayah Timor, Yorim Boymau, mengatakan pemberangkatan ketiga calon mahasiswa tersebut merupakan penutup rangkaian keberangkatan penerima beasiswa tahun ini.

“Ini gelombang terakhir tahun ini. Terakhir ini tiga orang dari Kabupaten Kupang. Hari ini mereka dengan kapal laut akan ke Surabaya,” ujar Yorim saat mengantar ketiganya di Pelabuhan Tenau Kupang.

Momen tersebut menjadi gambaran bahwa kesempatan pendidikan tinggi kini dapat diraih oleh anak-anak dari daerah yang sebelumnya mungkin menghadapi keterbatasan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke luar daerah.

Pendidikan Tidak Boleh Hanya Menjadi Milik Mereka yang Mampu

Sementara bagi Anggota DPR RI Usman Husin, pendidikan merupakan salah satu investasi terpenting dalam membangun masa depan generasi muda.

Menurutnya, keterbatasan ekonomi keluarga tidak boleh menjadi alasan bagi seorang anak untuk kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan. Anak-anak NTT memiliki potensi, kemampuan, dan cita-cita yang sama untuk berkembang serta meraih masa depan yang lebih baik.

Melalui perjuangan program beasiswa penuh tersebut, sebagai wakil rakyat berupaya membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak dari berbagai kabupaten di NTT agar mereka memiliki kesempatan belajar, mengembangkan kemampuan, dan memperluas wawasan di luar daerah asal.

Upaya membuka akses pendidikan ini juga menjadi penting di tengah tantangan pemerataan pendidikan yang masih dihadapi wilayah kepulauan seperti NTT.

Sebab, persoalan pendidikan bukan hanya berkaitan dengan kemampuan akademik seorang anak, tetapi juga menyangkut kesempatan, dukungan pembiayaan, akses perguruan tinggi, dan keberanian untuk melangkah keluar dari keterbatasan.

Beasiswa Bukan Garis Akhir, Melainkan Awal Perjuangan

Meski berhasil mendapatkan kesempatan kuliah, perjalanan 173 anak NTT tersebut tentu belum selesai. Mereka masih harus menjalani proses pendidikan, beradaptasi dengan lingkungan baru, belajar secara sungguh-sungguh, dan menyelesaikan studi hingga memperoleh gelar akademik.

Karena itu, keberhasilan program beasiswa tidak semata-mata diukur dari banyaknya mahasiswa yang diberangkatkan, tetapi juga dari keberhasilan para penerima dalam menyelesaikan pendidikan dan memanfaatkan ilmu yang diperoleh.

Usman Husin berharap, anak-anak yang hari ini memperoleh kesempatan kuliah dapat kembali membawa pengetahuan, keterampilan, dan pengalaman untuk membangun daerah asalnya.

Ia menegaskan bahwa NTT membutuhkan generasi muda yang terdidik, memiliki kompetensi, serta mampu mengambil bagian dalam pembangunan di berbagai sektor.

Exit mobile version