One School One Product Mulai dari Kampus, Gubernur NTT Launching Abon Ikan Tuna Karya Mahasiswa Muhammadiyah Kupang

20260629_170638

Kupang, SonafNTT-News.com. Gagasan One School One Product mulai menunjukkan implementasi nyata di Nusa Tenggara Timur. konsep tersebut kini diwujudkan melalui lahirnya produk abon ikan tuna hasil kolaborasi mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kota Kupang dengan pelaku usaha dan berbagai perguruan tinggi.

Produk tersebut resmi diluncurkan oleh Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, di Aula Lantai II Universitas Muhammadiyah Kupang, Senin (29/6/2026).Turut hadir kepala Dinas PUPR NTT Ir.Benyamin Nahak,MT, Wakil Rektor III Universitas Muhammad Kupang, Ketua DPD IMM Kota Kupang, dan Rektor Universitas Muhammadia KupanfProf Dr.Nasarudin Malik dan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah NTT Muhammadya Bidang Pemberdayaan Ekonomi dan Lingkungan Hidup Syarufudin Darajad

Peluncuran ini menjadi simbol bahwa perguruan tinggi selain berfungsi sebagai pusat pendidikan dan penelitian, tetapi juga sebagai ruang lahirnya inovasi yang memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menjelaskan bahwa inovasi yang dilakukan mahasiswa Muhammadiyah Kupang merupakan contoh konkret bagaimana dunia pendidikan dapat menghasilkan produk yang bernilai tambah dan mampu menjawab kebutuhan pasar.

Menurutnya, mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori di ruang kuliah. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berwirausaha, membangun kolaborasi, serta menciptakan produk yang mampu bersaing di pasar regional maupun nasional.

“Mahasiswa harus menjadi penggerak ekonomi. Kampus harus melahirkan inovator dan pencipta lapangan kerja, bukan hanya menghasilkan lulusan yang mencari pekerjaan,” tegas Gubernur.

Hal ini sejalan dengan arah pembangunan NTT yang mendorong setiap desa dan satuan pendidikan mengembangkan produk unggulan sesuai potensi daerah. Melalui pendekatan One School One Product, kampus didorong menjadi pusat inkubasi bisnis yang menghubungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kewirausahaan.

Abon ikan tuna dipilih karena memiliki nilai strategis. NTT dikenal sebagai daerah maritim dengan potensi perikanan yang besar, namun selama ini sebagian besar hasil tangkapan masih dijual dalam bentuk segar. Melalui proses pengolahan menjadi abon, nilai jual produk meningkat, daya simpan lebih panjang, distribusi menjadi lebih mudah, dan peluang pasar semakin luas.

“Saya juga apresiasi kerja sama Kepala Dinas PUPR Provinsi NTT Benyamin Nahak karena melalui kerja sama yang baik bisa para mahasiswa menghasilkan peoduk abon Ikan Tuna” ujarnya

Di akhir sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyatakan kesiapan Pemerintah Provinsi NTT untuk mendukung pengembangan produk tersebut melalui jejaring yang dimiliki, sehingga abon ikan tuna karya mahasiswa tidak hanya dikenal di NTT, tetapi juga mampu menembus pasar nasional bahkan internasional.

“Peluncuran ini menjadi lebih dari sekadar peresmian produk. Ia menjadi penanda bahwa transformasi pendidikan tinggi sedang bergerak menuju model yang lebih produktif, inovatif, dan berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Jika semakin banyak kampus melahirkan produk unggulan berbasis potensi lokal, maka One School One Product berpeluang menjadi salah satu penggerak lahirnya wirausaha muda, memperkuat UMKM, dan mendorong pertumbuhan ekonomi Nusa Tenggara Timur secara berkelanjutan” pungkasnya

Sementara Pengusaha muda Mud Maina menjelaskan bahwa usaha tersebut berawal dari produksi sederhana sebanyak 3–4 kilogram. Berkat dukungan peralatan dari Dinas Perikanan Kota Kupang dan Provinsi NTT, kapasitas produksi kini meningkat menjadi 20–40 kilogram dalam setiap proses produksi yang dilakukan dua kali dalam seminggu, bergantung pada ketersediaan ikan tuna.

Yang menarik, program ini tidak hanya menghasilkan produk, tetapi juga membangun jejaring pembelajaran kewirausahaan. Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Nusa Cendana, Politani Negeri Kupang, Sekolah Tinggi Perikanan dan Kelautan Bolok, serta Universitas Muhammadiyah Kupang, dilibatkan dalam kegiatan magang, produksi, pemasaran, hingga pengembangan usaha.

Model kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi ruang pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik. Mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai manajemen usaha, pengolahan hasil perikanan, pemasaran, dan kerja sama lintas sektor.

Ketua DPD IMM Kota Kupang, Wahidin Sara, mengatakan organisasi mahasiswa perlu mengambil peran yang lebih luas dalam pembangunan ekonomi. Selain membentuk karakter dan kepemimpinan, organisasi kemahasiswaan juga dapat menjadi wadah lahirnya pelaku usaha muda yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Peluncuran abon ikan tuna juga memperlihatkan pentingnya sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, dan pelaku usaha. Dukungan kebijakan, pendampingan, serta akses terhadap peralatan produksi menjadi faktor yang mempercepat berkembangnya usaha mahasiswa.